My poor, Munye.
Cerita ini terjadi pada hari Rabu, 15 Februari kemarin. Hari itu aku kembali lagi ke kamar ba’da maghrib. Ketika tiba di kamar salah satu hal yang biasanya langsung aku lakukan adalah menyalakan munye, si laptop kesayangan.
Setelah menekan tombol power, seperti biasa munye langsung meminta password untuk bisa masuk ke BIOS dan sistem WINDOWSnya. Setelah password aku masukkan, aku menerima telepon dari om-ku yang memberitahu tentang kedatangan nenekku ke Jakarta saat ini. Selesai menelepon, aku mengecek laptopku dan yang kutemukan hanyalah layar hitam dengan sebuah pointer mouse. Munye tidak bisa masuk sistem windows. Aku panik. Langsung saja aku mencoba me-restartnya, tetapi hasilnya nihil. Berkali-kali, tetapi Munye hanya bisa masuk sampai windows boot system. Satu hal yang terbesit dipikiranku saat itu juga hanyalah file-file dan dokumenku. Belum sempat aku backup, belum juga berhasil aku partisi, harddisk si Munye. Film-filmku. Foto-fotoku. Kumpulan lagu dan video yang belum aku backup. Call me a crybaby, weak, cengeng, menye, or whatever you want, but i cried for Munye. Tears of anger for the exact. My brain was screaming curse words. Rasanya tuh kesel banget pengen ngelempar si Munye di banting-banting. Grrrrr.
Hal selanjutnya yang aku lakukan adalah me-WhatsApp kakakku. Menanyakan apa yang terjadi. Mas Aji menyarankanku untuk membuka konfigurasi BIOS. Tapi lagi-lagi nihil. Satu-satunya hal yang mungkin dilakukan adalah melakukan recovery. Akhirnya setelah berpikir panjang dan mencoba mengikhlaskan semua film, foto, lagu, slide kuliah dan banyak lainnya, aku memutuskan merecovery Munye. Semalaman aku merecoverynya dan voila, Munye edisi 2012 tanpa memory 2011 dan tahun-tahun sebelumnya. Sorry for obliviating you, Munye.
Dari kejadian ini, satu pelajaran yang aku dapatkan. Treasure your memory. Keep it and save it, cause once you lost it you’ll regret it in all your life :)