Kriminalitas Angkutan Umum
Gemetar, itu yang aku rasakan saat aku turun dari angkot itu. I swear next time I’ll be more careful. Kecurian? Alhamdulillah belum. Alhamdulillah semua barangku masih utuh sampai aku tiba di rumah. Alhamdulillah, Allah masih mau menolongku saat itu. Ya, ini cerita tentang pencurian dan kriminalitas di angkutan umum di Indonesia. Beginilah kronologisnya.
Sabtu, 14 Januari 2012, aku meluncur dari Bogor menuju Pamulang. Seperti biasanya transportasi yang aku gunakan adalah angkutan kota yang berwujud mobil kecil-kecil yang dapat berisikan 11-12 penumpang dan jika dipaksakan bisa sampai 14 penumpang. Ya. Angkot. Angkutan kota. Perjalananku yang cukup jauh membuatku harus berganti trayek hingga empat kali. Hujan yang turun deras kala itu sempat membuatku malas untuk melakukan perjalanan pulang. Sempat terlintas pikiran untuk membatalkan kepulanganku tapi sudah 2 minggu tak pulang, rasanya rindu ini sudah tak terbendung lagi. Kangen ibu. Kangen masakan iyu. Kangen suasana rumah. Rasanya ingin lari sebentar dari suasana mencekam UAS. Mungkin firasat atau apa, rasa males itu. Saat aku naik angkot terakhir yang seharusnya langsung mengantarku hingga gang rumahku, aku mengalami hal yang tidak aku bayangkan sebelumnya.
Angkot trayek Ciputat-Parung, angkot dimana kejadian itu terjadi. Berawal dari perjalanan yang cukup menyenangkan dari Parung. Saat riba di daerah Sawangan, penumpang angkot itu terdiri dari aku, seorang ibu dan anaknya yang berumur sekitar 5 tahun serta seorang ibu dengan anaknya yang belum genap setahun. Aku yang memang duduk di pinggir dekat pintu tiba-tiba disuruh bergeser ke dalam oleh seorang penumpang yang akan naik saat di daerah Sawangan itu. Aku masih positive thinking, mungkin orang ini mau turun di jarak dekat, bergeserlah aku ke dalam, ke sebelah ibu-ibu dengan anaknya yang belum genap setahun itu. Tidak jauh dari orang itu naik, masuk lagi 3 orang penumpang. 2 orang pertama, well we can say it they’re fine, tidak ada hal yang aneh dari mereka. Tapi saat orang terakhir masuk, gerak-geriknya saja sudah aneh, dia memaksa untuk duduk di belakang supir. Dan anehnya lagi saat mereka berempat benar-benar naik, si batita yang sedang memakan jeruk, tiba-tiba muntah. Mulailah mas-mas dan bapak-bapak di sebelah dan depanku sok sok menyuruhku untuk pindah. Sometimes, I should thanks this lazy ass of mine. Karena aku udah pewe dan males ngangkat pantat ditambah bawaanku yang super ribet, aku menolak tawaran mereka. Selama perjalanan bersama empat orang itu, si dedek batita rewel mulu dan ga bisa diam. Aku sempat terpikir untuk turun dan pindah angkot jika si Ibu dan batita yang duduk di sebelahku turun. Entah, rasanya tidak nyaman duduk disitu. Si abang-abang yang duduk di belakang supir mulai menunjukkan tingkah laku. Dia mereka dengan tidak biasa. Wajahnya yang seperti wajah orang mabuk ditambah goresan kriminalitas, membuatku takut. Ditambah dia selalu melihat ke arahku seakan aku incaran empuk. Entah sengaja atau tidak, ibu yang duduk di sebelah abang itu mengeluarkan hp dari tasnya. Mulailah dua dari empat melakukan modusnya. Modus sok membuka jendela. Kenal sekali aku dengan modus ini. Langsung kecurigaanku terbukti saat itu. Empat orang itu adalah kawanan pencuri. Semakin bulat tekadku untuk turun jika si Ibu dan batita turun. Tak lama, si ibu meminta meminggirkan angkot. Mas yang sebelahku turun, lalu si ibu menyiratkanku untuk ikut turun bersamanya dengan alasan bawaannya yang banyak. Saat aku turun, si ibu mengucapkan ‘pencopet’ dengan gerak bibirnya. Dasar aku mental tempe, aku tau sebelumnya kalo mereka pencopet, tapi saat si ibu mengucapkan kata itu kepadaku, aku langsung gemetar di tempat. Langsung aku membayar angkot dan memutuskan untuk ikut si ibu. Setelah mas-mas itu naik lagi dan angkot jalan lagi, mas-mas itu sempat mengucapkan sesuatu kepadaki. Mungkin kesal, karena mungkin aku incaran utamanya malah turun dari angkot. Aku ga peduli dia mau ngomong apa yang penting aku selamat, laptopku selamat, dan hpku selamat. Karena sepanjang perjalanan yang aku pikirkan adalah bagaimana nasibku kalau laptop dan hpku dicuri, bisa-bisa aku dimarahi ibu. Belum genap 1 bulan, masa iya aku harus kehilangan hpku. Naudzubillahiminzalik, jangan sampe kejadian Ya Allah.
Selanjutnya aku dan si ibu meneruskan perjalanan kami dan membicarakan masalah tadi. Ya Allah kita sama-sama takut, sama-sama berusaha terlihat berani. Kita jadi berbicara sepanjang perjalanan. Alhamdulillah Allah masih menolong kami. Alhamdulillah, masih ada ibu itu yang mau menolongku. Mungkin ini teguran dan peringatan dari Allah. Mungkin aku telah diperingatkan untuk jauh lebih berhati-hati di kereta ke Jogja nanti. Ya, aku mau berangkat ke Jogja malam ini bersama teman-temanku. Doakan kami selamat sampai tujuan dan tidak terjadi apa-apa. Bismillahirrahmanirrahim. Jogja, here we come. Allah, please guide us.
kecup sayang, Fanny Nuraini, 17 Januari 2012